Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
tak ada salahnya kita saling memanggil
pada jarak tak terucapkan
kita membeku dalam kotak-kotak sunyi
kehilangan waktu bicara
tak sempat membaca
meski suratkabar tetap menulis
peristiwa yang tiap saat harus kita tunda
karena jalan kecil, kota menggoreskan air mata
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
aku kehujanan, tiada payung
kota bagai puisi
yang menetesi kata demi kata
dan kau dengan setia memungutnya
tanpa malu-malu
meski yang kau temui selalu saja kegelapan
tak mampu mengirim cahaya ke bukit-bukit itu.
Lhokseumawe, Aceh, Desember 1995
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
adakah kau menunggu, pada sudut
yang bebas dari tempias hujan
menandai sebuah sunyi dan dingin malam
sambil kau baca surat-surat yang belum selesai kutuliskan
sambil menatap hari-hari yang gelisah
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
Inilah ujian, katamu. Mewarnai kegembiraan kemarin
kau pun mengamit kabut membawa tidur dan menjadi mimpi-mimpi indah
yang selalu kau sematkan dalam hatiku setiap berangkat kerja
“ini adalah kebahagiaan yang tertunda,” begitu selalu katamu.
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
kita tulis kegirangan-kegirangan dalam buku yang lain
setelah pagi menyuguhkan air mata dan darah
yang kita seduh bersama kopi dan roti: menjadi bagian
kegembiraan kita tiap hari
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
Apa yang kita dengar dari gemerisik angin
saat usia makin merimbun
adakah masa silam telah mematangkan
hari-hari kita
mengajari kita tentang banyak hal: kegembiraan, air mata, dan hati yang pedih menghadapi banyaknya persoalan
di bumi yang sakit
sebelum sempat beranjak, mari kita hening sebentar
memperhatikan langit: adakah wajah kita makin cerah
atau justeru makin berkabut
saat semuanya harus dipertaruhkan,
termasuk hati, juga kegembiraan orang [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
kotamu mencoret-coret hujan dalam
buku harian yang baru saja kita buka
tanpa kata, tanpa suara
ketika aku terjebak disitu cuma keberanian
yang menolongku
orang-orang berjalan tanpa menoleh dan memberi salam
“jangan tanyakan cinta kepadanya!”
entah suara siapa mengusik
sementara kau di rumah
menonton televisi buat masa depan
11 Desember 1995-10 Nopember 1996
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
setelah semuanya tinggal puing
dan seolah tak ada lagi yang patut dihayati
lupakanlah,
sebagaimana mereka dengan girang melupakan dan
mengubur diri kita
biar saja sejarah membicarakan dirinya sendiri
engkau tidak perlu mengenang
sebagaimana mereka tidak mau sibuk mengurus
kubur-kubur kita
tak perlu ada upacara-upacara itu
tak perlu ada tangis
biarkanlah arloji kita meleleh dan tak perlu menyesali
sebagaimana mereka tak menyesal
melepaskan keberangkatan kita
pergi tak kembali.
Bandung, 13 Desember [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
Dalam senyap gelombang, kau berlari dari jauh
mengamit awan sendiri, tanpa sepotong mataharipun di lenganmu
kau rindukan rumah yang jauh
tetapi kota ini membuatmu haus dan ingin membunuh
lalu kau pun memanahku: Aku tersungkur gairah
menghitung keping bintang di keningmu
Berhari-hari, kau memakan daging-dagingku,
berhari-hari pula aku menghitung diriku hilang perlahan-lahan
siapa pun tak mampu mencegahmu
begitu pun aku terus merasa nikmati disantap [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
– episode sebuah rumah
Menulis perjalanan itu, bagai kembali dari sebuah pengasingan
aku menemukan kembali rumah yang hilang sekian abad
juga terminal yang ditinggal pergi
tapi siapa mengerti bahwa kekeringan bakal berlanjut
bumi tetap tak menumbuhkan pohon-pohon
dan keningku sunyi karenanya.
Siapa sebenarnya yang tidak berani mencintai
atau menulis pagi dengan [...]
Komentar Terakhir