Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
apakah perlu kutuliskan semuanya
keterharuan membaca bibir langit mengucap sejumlah luka
air mataku tampaknya tidak pernah cukup untuk
menina-bobokanmu dalam jaman ini
apalagi mengajakmu lari dari kenyataan yang sakit
hari-hari tetap saja kegelapan
hari-hari tetap juga kebahagiaan orang lain
kita belajar menulis dan membaca
adalah untuk memahami makna dari segala keperihan
tanpa sempat menukilkan kisah senyum sebuah musim pun
dalam agenda yang tiap hari kita [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
dalam diammu aku terharu menterjemahkan sejumlah malam
berbaris dalam bahasa dan kenyataan laut
kau melempar aku dalam keheningan terhebat
memandang diri sendiri bercermin matamu
hingga berkali-kali aku minum kehangatan
yang aku sendiri tidak pernah mengerti
ketika kau katakan hari adalah kesunyian
aku pun terlempar dalam sumur yang kau sediakan
mencoret-coret puisi tentang diri sendiri
yang kehilangan di sejumlah perjalanan
juga tentang perempuan yang kemarin melukis [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
dalam hujan, aku mencari tepi
menyiapkan beberapa lembar kertas, pena,
meneruskan surat-surat yang belum selesai
kutuliskan
juga mengerjakan PR sekolah, tugas kantor,
dan menulis jadwal berkunjung ke rumahmu
begitulah hari-hariku yang belum kau pahami
mengisi kotak arloji dengan kesibukan
sambil menjinakkan kebosanan
juga mencari kartu pos, menulis namamu
berkali-kali dan membacanya berkali-kali pula
hujan menjadi ilustrasi sunyi
yang harus kuterjemahkan
dalam kemeja yang basah: bahwa demikianlah
suatu saat aku [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
tiba-tiba saja kau menjadi ibu yang setiap saat menjagaku
tidur, memperjelas mimpi-mimpiku
dan bunga di kelopak bibirmu mengembang bagai senja yang mengembangkan bulan terindah bagi malam
tapi adakah besok tetap menjadi hari-hari yang lembut
sebagaimana ibu senantiasa menjagaku, mengkuatirkanku bila
terlambat pulang, dan menina bobokan bila aku lelah
adakah sebuah rumah di dalam hatimu yang akan membuatku
selalu tentram, sebagaimana ibu menyambutku [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
aku telah siap menjadi arloji bagimu yang siap mengingatkan
jam kerja dan waktu pulang kerumah, katamu. Kau pun menyandarkan
hidupmu satu-satunya kepadaku dan aku membalutnya dengan kangen
dan keterharuan yang hebat. Malam, 19 Juli, menuliskan semua itu
pada dingin daun-daun dan riuh jalan yang kita tempuh untuk
membicarakan sebuah sejarah yang panjang: Saat semua suara seperti
senyap menampung bisikan-bisikan halus yang [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
kalau tiba-tiba nanti kita harus menangis, aku ingin
kau memperdengarkan sebuah tangis yang manis
sehingga rumah kita bukanlah kuburan atau malam yang gelap
tetapi kenyataan yang menggairahkan
seandainya nanti kita harus bertengkar, aku ingin
kita menciptakan pertengkaran yang lembut
sehingga rumah kita bukan kota yang berisik atau bau penggusuran
tetapi hidup yang menentramkan
seandainya nanti kita harus saling diam
karena banyaknya hal yang [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
Bila kau memasukiku, pahamilah bukit-bukit yang
meninggi
supaya aku berkesempatan menjelaskan bagaimana sulitnya mendaki
supaya kau tahu bagaimana aku membangun hidup
selalu menghayati ketinggian bukit-bukit itu
karena kenyataan ini adalah kemarau
maka pahamilah ketinggian bukit-bukit
dan angan kanak-kanakku yang menjulang!
Jakarta, Juli 1997.
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
dalam diam, aku terjemahkan sajak di keningmu
berbaris bagai lampu-lampu di kotamu, dimana aku menemukan
sebuah alamat yang terkoyak
satu pulau yang seharusnya aku tenggelamkan
setelah sejumlah cinta gugur disitu
kau paksa juga aku meminum kehangatan di bibirmu
tanpa sempat berkata “tidak”
padahal aku ingin sekali pergi dan tak ingin meninggalkan
tarian ombak di cangkir minum kita
karena pada akhirnya segalanya harus dituntaskan
supaya tidak [...]
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
bila kasmaran, keratlah nadimu
temukanlah aku disitu
membawamu kehangatan membara
serta udara bukit yang hijau
tapi jangan sekali-kali memanggilku
karena malam telah larut
tidurlah
Jakarta, Juli 1997
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
Wid, buatkan aku nasi goreng, dua telur dadar, tambah sedikit kopi
tanpa gula
aku ingin bercermin antara enaknya masakanmu dan kopi pahit itu
seperti halnya aku selalu menikmati hari-hari tanpa roti, tanpa bak mandi
di kamarku
dan aku hanya menikmati sajak-sajakmu, ya buat roti juga untuk bak mandi
tapi malam ini aku belum dapat mengirim satu pesan buatmu
masih ada kota yang [...]
Komentar Terakhir