TARIAN CERMIN

Archive for the ‘tarian kota’ Category

CERITA UNTUK IBU

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

aku menulis kesedihan dalam bus yang bergerak
kota mengajari aku menemukan air mata
tiap saat mesti kupahami dengan kekekalan cinta
kukenang berkali-kali tarian di bibirmu:
laut menjerumuskan kita bila tak pintar mengakrabi cuaca
aku menjadi pelaut yang gemar mencatat buih
melempar kail di mana-mana
Jakarta, Nopember 1996

BERLARI-LARI DALAM HUJAN

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

aku berlari-lari dalam hujan
girang dalam masa kanak-kanak
menembus arca dan jalan asia afrika
menemukan gadis-gadis yang kau ceritakan
atau cerita “Bandung Lautan Api”
di jalan yang menanjak
juga di kemacetan pukul tiga sore
saat aku ingin kembali ke Jakarta
menemukan engkau disana
meski harus menyibak bufet, KFC, tower
dan jalan raya
disitulah aku harus bersabar
membunuh segala kasmaran
saat hujan reda, dan aku berada dalam bus
menuju Jakarta
jalan [...]

MENGIRIM MUSIM

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

langit ini kukirim untukmu
dalam semangat dingin
bacalah surat-surat terlekat di garis pantai
serta pada kening malam yang pekat
isyarat rumah sakit yang tak bosannya mengunjungi sejarah kita
ketika langit itu kukerat sepotong
aku melihatmu berlari dengan tisu di tangan
ternyata kau mengerti kita telah banyak kehilangan
termasuk wajah dan rumah sendiri
hingga akhirnya kita bermukim di negeri aneh
tak mengenal siapa-siapa
pun tak mengenal diri [...]

CERITA DI JALAN

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

di jalan sempat juga kuceritakan kau:
sejarah yang terpotong di tepi musim
kita telah selesaikan satu episode kekonyolan
dengan tangis terbata-bata
karena langit membingkaikan hujan dan memindahkan
ke ladang orang lain
seperti bus bergerak meninggalkan tujuan
lalu kita dipaksa menerima musim yang sakit
meletakkan kembali batu pertama dengan kebingungan terhebat
bumi yang kita pijak menjadi kegelapan
dimana harus kembali memulai sejarah
setelah catatan-catatan purba habis dimusnahkan
berikut [...]

BIOGRAFI PERJALANAN

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

aku berbicara denganmu lewat telepon yang diputuskan
kangen menjadi sangat sunyi; kita menjelma kota-kota tanpa bahasa
“aku merindukanmu. Datanglah dengan kehangatan
malam-malam yang pernah kita sketsakan!”
pagi-pagi mengaduh
mengikuti irama ruang tamu yang bergerak keluar
aku menunggumu dari pintu ke pintu
sambil terus saja membuka koran-koran yang menyuguhkan
masakan kesukaanku
sebelum jalan raya memperkenalkan pesta dan
sejarah kota-kota
yang akhirnya memasuki lemari dan rak pakaianmu
ketika cinta [...]

MENELAN KOTA BESAR

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

Benar, aku harus bertaruh denganmu
dengan iklan dan model untuk makan malam kita
kau membiarkan aku tersesat dalam hujan
tanpa perlu bertanya apa sebenarnya kubutuhkan
jaket, payung atau tablet anti flu
kau sudah cukup paham; maka kau suguhkan aku donat
ayam gorng ketucky dan gedung twenty one
tanpa pertanyaan dan basa-basi
aku pun menelan semuanya — termasuk ketololan sendiri
Jakarta, 16 Nopember 1996

LEDAKAN KOTA-KOTA

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

kota tiba-tiba meledak dalam arlojimu
mengirim kebingungan
sebagai penyair, aku pun mengutip sajak-sajakmu
tanpa sempat menyesalkan banyak hal
atau melukis kota-kota dengan semangat air mata
syukur, aku tak sempat mencatat cerita demi cerita
dari republik terluka
hingga tak ada yang perlu ditunda
tidak ada yang harus terluka
kota yang meledak adalah kehangatan sejarah
melingkar pada musim-musim sunyi
aku menjadi sangat menikmati setiap detak
jantung air mata
juga [...]

KOSONG

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

kadang kita harus selalu ingat, jalan tidak seperti diperkirakan
maka bersiaplah untuk bersedih, untuk menerima nasib yang dingin
dan segala keinginan membusuk dalam coretan di dinding
begitulah yang kucoba pahami kini: Sebuah kota tiba-tiba saja
meledak dalam genggaman
aku ingin bersedih, sebagaimana juga engkau mungkin,
senantiasa mengharapkan bukit-bukit yang meninggi, bulan yang perak
dan diatasnya kita menari
tarianku kini kosong, tidak ada pentas [...]

MEMBACA WAJAH IBU

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

disitulah bintang itu, terselip dalam kelopak mata
tetap cerah, tetap indah
dan aku pun larut dalam sinarnya
disitulah laut, mengalirkan hawa dingin
bagi setiap perjalanan
tetap teduh, tetap biru
membuatku selalu kangen dan terpana
disitulah sumur, yang tak pernah lelah
memberi
aku adalah gayung, yang masih tetap
menimbanya
Jakarta, 6 Januari 1998

MENERIMA SURAT (2)

Posted by: tariancermin on: April 17, 2007

– kepada Dianing
kita menjala langit dengan keyakinan
dengan tanda tanya yang belum sempat kita pecahkan
namun segalanya kita buat jadi roti dan kopi pagi
hingga kita merasa nikmat menyantapnya
tanpa harus tersentak dengan kenyataan-kenyataan pahit
segalanya telah kita siapkan: Air mata, luka,
bahkan kematian
karena dengan begitulah kita terbebas dari prasangka
dan ketakutan-ketakutan
sebab pada gilirannya memang [...]