Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
kotamu mencoret-coret hujan dalam
buku harian yang baru saja kita buka
tanpa kata, tanpa suara
ketika aku terjebak disitu cuma keberanian
yang menolongku
orang-orang berjalan tanpa menoleh dan memberi salam
“jangan tanyakan cinta kepadanya!”
entah suara siapa mengusik
sementara kau di rumah
menonton televisi buat masa depan
11 Desember 1995-10 Nopember 1996
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
dalam hujan, aku mencari tepi
menyiapkan beberapa lembar kertas, pena,
meneruskan surat-surat yang belum selesai
kutuliskan
juga mengerjakan PR sekolah, tugas kantor,
dan menulis jadwal berkunjung ke rumahmu
begitulah hari-hariku yang belum kau pahami
mengisi kotak arloji dengan kesibukan
sambil menjinakkan kebosanan
juga mencari kartu pos, menulis namamu
berkali-kali dan membacanya berkali-kali pula
hujan menjadi ilustrasi sunyi
yang harus kuterjemahkan
dalam kemeja yang basah: bahwa demikianlah
suatu saat aku harus berjalan mendapatkanmu
tanpa payung,
tanpa angan-angan manis
yang diam-diam membentuk keinginan dan cita-citamu
terhadap hari-hari kita
Lhokseumawe, 11 Desember 1995
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
aku berlari-lari dalam hujan
girang dalam masa kanak-kanak
menembus arca dan jalan asia afrika
menemukan gadis-gadis yang kau ceritakan
atau cerita “Bandung Lautan Api”
di jalan yang menanjak
juga di kemacetan pukul tiga sore
saat aku ingin kembali ke Jakarta
menemukan engkau disana
meski harus menyibak bufet, KFC, tower
dan jalan raya
disitulah aku harus bersabar
membunuh segala kasmaran
saat hujan reda, dan aku berada dalam bus
menuju Jakarta
jalan tol membisikka pencarian: “Dimana-mana yang kau temui
adalah kegelapan
belajarlah untuk mengerti
sambil mendirikan museum dan rumah sakit!”
tapi aku tetap tak mengerti
dimana arca-arca itu, gadis-gadis santun
pulang sekolah
dimana cerita yang pernah kau titip
sebelum aku datang padamu
aku tak butuh bufet, KFC, tower, dan coca-cola
disitu
aku cuma mimpi tentang kehangatan tubuhmu
di tengah udara pagi yang sejuk
Bandung-Jakarta, Desember 1996.
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
langit ini kukirim untukmu
dalam semangat dingin
bacalah surat-surat terlekat di garis pantai
serta pada kening malam yang pekat
isyarat rumah sakit yang tak bosannya mengunjungi sejarah kita
ketika langit itu kukerat sepotong
aku melihatmu berlari dengan tisu di tangan
ternyata kau mengerti kita telah banyak kehilangan
termasuk wajah dan rumah sendiri
hingga akhirnya kita bermukim di negeri aneh
tak mengenal siapa-siapa
pun tak mengenal diri sendiri
lalu kita dipaksa belajar hidup kembali
Bogor-Bandung, Desember 1996
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
di jalan sempat juga kuceritakan kau:
sejarah yang terpotong di tepi musim
kita telah selesaikan satu episode kekonyolan
dengan tangis terbata-bata
karena langit membingkaikan hujan dan memindahkan
ke ladang orang lain
seperti bus bergerak meninggalkan tujuan
lalu kita dipaksa menerima musim yang sakit
meletakkan kembali batu pertama dengan kebingungan terhebat
bumi yang kita pijak menjadi kegelapan
dimana harus kembali memulai sejarah
setelah catatan-catatan purba habis dimusnahkan
berikut cinta dan sebuah penanda perjalanan!
Bandung, 13 Desember 1996
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
aku berbicara denganmu lewat telepon yang diputuskan
kangen menjadi sangat sunyi; kita menjelma kota-kota tanpa bahasa
“aku merindukanmu. Datanglah dengan kehangatan
malam-malam yang pernah kita sketsakan!”
pagi-pagi mengaduh
mengikuti irama ruang tamu yang bergerak keluar
aku menunggumu dari pintu ke pintu
sambil terus saja membuka koran-koran yang menyuguhkan
masakan kesukaanku
sebelum jalan raya memperkenalkan pesta dan
sejarah kota-kota
yang akhirnya memasuki lemari dan rak pakaianmu
ketika cinta kutulis kembali, aku telah
membeku dalam asbak rokok
aku tambah sulit mengenalimu — apalagi menandai bunga yang kutanam
di tanah lembut sudut bibirmu
malam-malam membentuk kapal-kapal di tengah laut
bergerak dengan nafas satu-satu
tak pernah sampai hingga dermaga runtuh oleh
keterpencilan kita
“aku inginkan perjalanan sesungguhnya!”
Jakarta, 19 Nopember 1996
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
Benar, aku harus bertaruh denganmu
dengan iklan dan model untuk makan malam kita
kau membiarkan aku tersesat dalam hujan
tanpa perlu bertanya apa sebenarnya kubutuhkan
jaket, payung atau tablet anti flu
kau sudah cukup paham; maka kau suguhkan aku donat
ayam gorng ketucky dan gedung twenty one
tanpa pertanyaan dan basa-basi
aku pun menelan semuanya — termasuk ketololan sendiri
Jakarta, 16 Nopember 1996
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
kota tiba-tiba meledak dalam arlojimu
mengirim kebingungan
sebagai penyair, aku pun mengutip sajak-sajakmu
tanpa sempat menyesalkan banyak hal
atau melukis kota-kota dengan semangat air mata
syukur, aku tak sempat mencatat cerita demi cerita
dari republik terluka
hingga tak ada yang perlu ditunda
tidak ada yang harus terluka
kota yang meledak adalah kehangatan sejarah
melingkar pada musim-musim sunyi
aku menjadi sangat menikmati setiap detak
jantung air mata
juga seluruh suara-suara yang meluncur dari
kedalaman persentuhan kita
tuhan membalut semua cerita itu
dengan kembang-kembang di bibirmu
yang senantiasa kubaca dalam kebugaran cinta.
Jakarta, Nopember 1996
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
tiba-tiba saja kau menjadi ibu yang setiap saat menjagaku
tidur, memperjelas mimpi-mimpiku
dan bunga di kelopak bibirmu mengembang bagai senja yang mengembangkan bulan terindah bagi malam
tapi adakah besok tetap menjadi hari-hari yang lembut
sebagaimana ibu senantiasa menjagaku, mengkuatirkanku bila
terlambat pulang, dan menina bobokan bila aku lelah
adakah sebuah rumah di dalam hatimu yang akan membuatku
selalu tentram, sebagaimana ibu menyambutku dengan hangat
setiap bangun pagi atau pulang dari rantau
adakah sebuah laut di kelopak matamu yang bening
selalu terharu terhadap kesulitan dan kesusahanku
adakah kau seperti ibuku, yang selalu saja gelisah terhadap
hari-hariku
karena cuaca begitu saja berubah, dan waktu bagai gergaji
tiap saat siap memotong tiang-tiang rumah kita.
Batang, 25 Juli 1997.
Posted by: tariancermin on: April 17, 2007
aku telah siap menjadi arloji bagimu yang siap mengingatkan
jam kerja dan waktu pulang kerumah, katamu. Kau pun menyandarkan
hidupmu satu-satunya kepadaku dan aku membalutnya dengan kangen
dan keterharuan yang hebat. Malam, 19 Juli, menuliskan semua itu
pada dingin daun-daun dan riuh jalan yang kita tempuh untuk
membicarakan sebuah sejarah yang panjang: Saat semua suara seperti
senyap menampung bisikan-bisikan halus yang keluar dari pembicaraan kita
aku telah siap menjadi penyejuk di rumah kita, seperti angin dan embun yang selalu melahirkan pagi, begitu katamu.
Jakarta, 15 Agustus 1997.
Komentar Terakhir