TARIAN CERMIN

PADA SEBUAH CAFE

Posted on: April 17, 2007

dalam diam, aku terjemahkan sajak di keningmu
berbaris bagai lampu-lampu di kotamu, dimana aku menemukan
sebuah alamat yang terkoyak
satu pulau yang seharusnya aku tenggelamkan
setelah sejumlah cinta gugur disitu

kau paksa juga aku meminum kehangatan di bibirmu
tanpa sempat berkata “tidak”
padahal aku ingin sekali pergi dan tak ingin meninggalkan
tarian ombak di cangkir minum kita
karena pada akhirnya segalanya harus dituntaskan
supaya tidak ada air mata yang tergenang

“campurlah alamatmu dalam minum kita
seperti kau menjahit malam-malam yang sakit!”
begitu katamu. Aku tak pernah bisa menolak
hingga kemudian menyadari pagi telah sunyi
dan kita sama-sama kembali
Aku harus mengoyak satu alamat lagi
sambil bergegas pergi

Sigli-Aceh, Agustus 1996.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: