TARIAN CERMIN

Archive for the ‘jejak awal’ Category

tak ada salahnya kita saling memanggil
pada jarak tak terucapkan
kita membeku dalam kotak-kotak sunyi
kehilangan waktu bicara
tak sempat membaca
meski suratkabar tetap menulis
peristiwa yang tiap saat harus kita tunda
karena jalan kecil, kota menggoreskan air mata

Baca entri selengkapnya »

Iklan

aku kehujanan, tiada payung
kota bagai puisi
yang menetesi kata demi kata
dan kau dengan setia memungutnya
tanpa malu-malu
meski yang kau temui selalu saja kegelapan
tak mampu mengirim cahaya ke bukit-bukit itu.

Lhokseumawe, Aceh, Desember 1995

adakah kau menunggu, pada sudut
yang bebas dari tempias hujan
menandai sebuah sunyi dan dingin malam
sambil kau baca surat-surat yang belum selesai kutuliskan
sambil menatap hari-hari yang gelisah

Baca entri selengkapnya »

Inilah ujian, katamu. Mewarnai kegembiraan kemarin
kau pun mengamit kabut membawa tidur dan menjadi mimpi-mimpi indah
yang selalu kau sematkan dalam hatiku setiap berangkat kerja
“ini adalah kebahagiaan yang tertunda,” begitu selalu katamu.

Baca entri selengkapnya »

kita tulis kegirangan-kegirangan dalam buku yang lain
setelah pagi menyuguhkan air mata dan darah
yang kita seduh bersama kopi dan roti: menjadi bagian
kegembiraan kita tiap hari

Baca entri selengkapnya »

Apa yang kita dengar dari gemerisik angin
saat usia makin merimbun
adakah masa silam telah mematangkan
hari-hari kita
mengajari kita tentang banyak hal: kegembiraan, air mata, dan hati yang pedih menghadapi banyaknya persoalan
di bumi yang sakit

sebelum sempat beranjak, mari kita hening sebentar
memperhatikan langit: adakah wajah kita makin cerah
atau justeru makin berkabut
saat semuanya harus dipertaruhkan,
termasuk hati, juga kegembiraan orang lain,
dan mengubur kenangan-kenangan pahit
setelah kita menemukan rumah-rumah,
setelah kita lelap dengan berbagai menu di meja makan

apa yang kita petik dari perjalanan ini
dari berisik jalan raya, adakah kangen
setelah berabad-abad kita berlari
mengejar kota-kota
lalu lahir beribu kali: rupa penuh warna

adakah kita pahami kelahiran itu?

Jakarta, 6 Oktober 1997

kotamu mencoret-coret hujan dalam
buku harian yang baru saja kita buka
tanpa kata, tanpa suara
ketika aku terjebak disitu cuma keberanian
yang menolongku
orang-orang berjalan tanpa menoleh dan memberi salam
“jangan tanyakan cinta kepadanya!”
entah suara siapa mengusik
sementara kau di rumah
menonton televisi buat masa depan

11 Desember 1995-10 Nopember 1996